Minggu, 17 Mei 2020

artikel

Mengurai jiwa sosial di tengah masa pandemic covid-19
0leh.m.dian rifqi effendi s.pd.i penyuluh agama islam non pns kecamatan berbek.
Di tengah era globalisasi ini, ketika setiap orang di kejar oleh kepentingannya masing-masing sehinga mulai terkikislah rasa peduli pada sesame seperrti pada masa pandemic covid-19 ini,,di mana pandemiccovid -19 ini begitu berdampak pada setiap sendi di penjuru negeri kegiatan-kegiatan yang di batasi perekonomian yang mengalami kepincangan banyak orang kehilangan pekerjaan semua lapisan merasakan dampak dari covid -19.
Sesungguhnya inilah saatnya kita saling menguatkan saling memperdulikan berempati, saatnya kita harapkan tali hati persaudaraan kepada sesame, semoga pandemic ini segera berlalu. Namun di tengah pandemic coovid-19 sesungguhnya masih banyak orang yang peduli pada sesame salah satunya di lakukan oleh penyuluh agama islam PAH kecamatan berbek dengan penuh semangat para penyuluhmelaksanakan kegiatan social di antaranya bagi masker sebagai bentuk solidaritas dan semangat bersama dalam rangka penanggulangan covid -19. Aksi social ini di laksanakan di perempatan lampu merah barat polsek berbek di jalan raya nganjuk sawahan yang menjadi sasaran adalah para pengendara motor sekaligus mengedukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan dari vvirus 19 salah satunya dengan memakai masker.
Aksi social yang lain adalah melaksanakan penyemprotan disinfektan di sarana ibadah,fasilitas umum sehingga kegiatan tersebut di apresiasi baik oleh jajaran muspika kecamatan berbek. Serta giat lain juga di lalksanakan berupa penyaluran bansos berupa pembagian sembako kepada masyarakat yang terdampak covid-19,  kegiatan tersebut adalah bentuk kepedulian penyuluh dalam meringakan beban masyarakat di tengah situasi pandemic covid -19 yang sangat di rasakan oleh mereka.
Hal tersebut merupakan manifestasi dari firman Allah SWT tentang pentingnya saling tolong menolong antar sesame dalam surat al-Maidah ayat 2 
وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الاثم والعدوان
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak covid -19 penyuluh kecamatan berbek langsung turun untuk melihat kondisi masyarakat secara langsung serta membagikan sembako kepada mereka yang membutuhkan,dengan harapan bantuan tersebut bias meringankan kepada masyarakat.
Aksi yang lain adalah membagikan     




Kamis, 14 Mei 2020

PANDANGAN IBNU SINA TENTANG PANDEMI COVID 19





 





PANDANGAN IBNU SINA TENTANG PANDEMI COVID-19


Menghadapi pandemi virus corona atau COVID-19, strategi karantina dan isolasi menjadi kebijakan utama di seluruh dunia. Karantina dan isolasi berkembang menjadi berbagai bentuk, yang tujuannya membatasi kontak dengan lingkungan sekitar dan menekan penularan.

Ada beberapa catatan sejarah tentang metode karantina yang digunakan saat ini. Karantina ditujukan bagi orang yang tidak punya gejala namun ada risiko terinfeksi penyakit. Metode karantina dilakukan mereka yang datang dari daerah terinfeksi penyakit atau kontak dengan pasien.

Definisi Ibnu Sina tentang infeksi sama dengan yang digunakan dunia medis saat ini, termasuk soal mikroorganisme yang tak kasat mata. Dalam hipotesanya, Ibnu Sina menjelaskan penyakit akibat mikoorganisme ini bisa sangat menular pada lingkungan sekitar. Mereka yang terinfeksi harus dikarantina untuk menekan kasus penularan.
Ibnu Sina adalah dokter pertama yang mendesain metode karantina untuk mencegah penularan penyakit infeksi. Metode ini disebut Al-Arba'iniya atau the fortieth yang diterjemahkan sebagai quarantena dalam Venetian language awal. Sesuai namanya, Al-Arba'iniya adalah sanitary isolation yang dilakukan selama 40 hari dengan membatasi ruang dan gerakan.
Karantina adalah praktik wajib di seluruh rumah sakit pada zaman tersebut untuk mencegah penyebaran kusta. Penyakit kulit infeksius ini ditandai bercak putih pada kulit, yang bisa menyebabkan pasiennya kehilangan anggota tubuh
Metode karantina menjadi sangat umum di Eropa terutama selama dan setelah serangan wabah Black Death di abad ke-14 dan 15. Wilayah penerapan karantina adalah tempat bertemunya pedagang antar negara misal di Venesia, Italia. Karantina dilakukan selama 40 hari pada seluruh kru dan penumpang kapal yang akan berlayar.
Efektivitas dan keberhasilan karantina untuk menekan penyebaran epidemik, mengakibatkan metode ini terus digunakan hingga sekarang. Tentunya mekanisme dan durasi menyesuaikan dengan kondisi wabah, sehingga tidak harus 40 hari.

KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAAH

Keutamaan Shalat Berjamaah. OLEH: DIAN RIFQIL EFENDI SPDI PENYULUH AGAMA ISLAM NON PNS KECAMATAN BERBEK      Sholat berjamaah merupakan sala...